Agar anak cepat tinggi

Menjadi Orang Tua Tegas Tanpa Membentak Dan Menghukum

Seperti judulnya, Happy Little Soul mengajak anak dan orang tua untuk berbahagia bersama sejak dini. Melalui pengalaman seorang Ibu sekaligus sang penulis, Ibu Retno Hening dan anaknya, Kirana. Buku ini cocok dibaca para ayah dan bunda “pemula” yang masih bingung dengan pola mengasuh anak yang benar. Ayah dan bunda akan diajak untuk belajar dari pengalaman suka duka Mona Ratuliu, artis sekaligus penulis buku Parenthink sendiri ketika mengasuh ketiga anaknya.

Berbicara dengan anak tanpa membentak

Lama-kelamaan, anak yang sering dimarahi bisa mengalami depresi. Untuk mencegah hal itu terjadi lagi, sangat penting untuk mengelola emosi saat menghadapi anak-anak. Melansir Very Well Family, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melakukan pendekatan dengan tindakan yang lebih positif. Anak membutuhkan dorongan positif dalam hidup, maka berilah kesempatan untuk mengeksplorasi dan mencoba hal-hal baru di sekitarnya.

Jadi, terlalu sering memarahi anak benar-benar bisa berdampak secara fisik. Saat anak melakukan kesalahan, bukan berarti Bunda berhak untuk memarahi dan membentaknya, ya. Tapi meskipun kita sudah berteriak dan membentak mereka, tak akan mereka jera. Singkatnya, memarahi anak hanya akan membuat mereka takut, dan memahami konsekuensi dari tindakan mereka.

Sadari hal ini dan jangan dijadikan pembenaran untuk memarahi anak. Perhatikan dan jaga nada suara Anda saat berbicara agar tidak meledak-ledak. Segera setelah Anda kelepasan membentak atau menyakiti hati anak, tarik napas panjang paling sedikit tiga kali. Jangan berkata-kata apa pun sampai Anda sudah melakukan hal ini. Ketika Anda sedang dilanda emosi, tubuh Anda jadi lebih tegang.

Dengan mengetahui dampak buruk di balik sering memarahi anak, mulai sekarang Bunda bisa berlatih untuk mengendalikan emosi, ya. Memarahi anak sebenarnya bukanlah sesuatu yang sama sekali tidak diperbolehkan. Bunda mungkin berpikir bahwa memarahi saja tidak akan berefek secara fisik seperti memukul. Otak anak yang sering dimarahi bisa mengalami hambatan perkembangan hingga ukurannya menjadi lebih kecil dibanding rata-rata.

Saat orang tua mendidik anak, tak semudah membalikkan telapak tangan. Apa pun yang Anda lakukan dan katakan akan membentuk kepribadian dan pola pikir anak. Ini berarti Anda harus sangat berhati-hati dalam bertindak maupun berkata-kata. Ketika anak remaja ingin melakukan hal yang menyimpang, tentunya kewajiban orang tua adalah mencegahnya. Jelaskan berbagai risiko yang kemungkinan terjadi terhadap sesuatu yang akan mereka lakukan. Dengan mengetahui risiko yang kemungkinan terjadi, memungkinkan para remaja untuk lebih berpikir lebih jernih.

Berikut ini Jakmall.com akan membahas 10 cara menghadapi anak remaja yang keras kepala. Cara mendidik anak yang keras kepala atau suka melawan tentu tidak mudah untuk setiap orangtua. Ketika misalnya anak malas mandi, anak susah makan, atau kabur dari kebiasaan tidur siang mungkin membuat orang tua meluapkan emosinya dengan marah-marah. Psikolog anak dan remaja Samantha Ananta mengatakan, orang tua yang sering memarahi anak dengan cara membentak akan kehilangan hubungan atau ikatan emosional dengan sang buah hati. Studi penelitian menunjukkan bahwa mengekspresikan rasa marah di saat kita sedang emosi justru akan membuat kita semakin marah.

Bukannya jadi menghormati dan menghargai orangtua, tapi Anda justru merasa ciut, kesal, dan terancam. Begitu juga yang akan dirasakan anak ketika Anda kelepasan membentak. Tujuan Anda untuk mendisiplinkan anak tidak akan tercapai karena anak justru merasa Anda sedang menyerang mereka. Penting pula untuk memberi tahu anak sebelumnya, sehingga anak dapat mengetahui bagaimana batas-batas tersebut bermanfaat bagi anak. Hal terpenting yang harus ditindaklanjuti adalah tetap konsisten dan berpegang teguh pada aturan yang sudah disepakati bersama antara anak dan orang tua.